Tidak ada yang lebih mengesalkan saya daripada kecerewetan pembicaraan tentang makanan. Bagi saya, pembicaraan semacam itu adalah pembicaraan ‘rendah’, seolah hidup itu begitu berorientasi pada perut. Selama ini, saya tumbuh dan besar dengan pemahaman yang begitu substantif dan naif tentang makanan, yaitu semata sebagai ‘prosedur’ untuk untuk hidup. Sehingga praktis, saya akan merasa sangat kesulitan untuk menjawab pertanyaan tentang makanan apa yang saya sukai. Bagi saya, itu adalah pertanyaan salah, karena saya hampir-hampir tidak memiliki makanan favorit. Semua suka, dan apapun ‘masuk’. Apatah lagi perbincangan tentang macam-macam warung makan atawa restoran beserta ragam makanan khas jualannya masing-masing. Sungguh, kalau sudah begitu, saya memilih untuk ‘nyengir’ dan merespon untuk setuju saja.

Semuanya tidak masalah hingga akhirnya saya menikah. Allah mendatangkan untukku seorang akhwat yang bagi saya begitu ahli makanan, entah karena latar belakang pendidikannya, entah karena yang lainnya. Seorang akhwat yang langsung dengan fasihnya memperbincangkan beragam makanan yang ia suka, pada pagi pertama sesudah akad nikah kami. Sehingga pagi itu di meja makan mertua, saya harus mendengarkan cerita seru tentang menu sarapan itu plus beragam alasan mengapa ia suka coklat dan es krim, begitu membenci udang, tetapi sangat tergila-gila pada tahu. Jujur saja, saya kaget dan terpana. Tapi, kebutuhan untuk ta’aruf pada masa awal pernikahan mengalahkan tumbuhnya resahku pada perbincangan dengan tema semacam itu. Sehingga saya pun tinggal menjalankan respon standar saya: tersenyum dan mengiyakan.

Lambat laun karakter dan kebiasaan kami masing-masing mulai menegas. Artinya, itulah saat kami mulai berbeda dan membibitkan konflik. Jalan-jalan malam seputaran kota menjadi medium semai konflik kami. Ia sempat kecewa ketika saya makan soto Kudus dengan mata berkali-kali menatap televisi. Ia menjadi tersinggun dan sedikit marah ketika saya memilih makan nasi goreng sambil membaca majalah. Ia begitu menyesal mengajak saya jalan malam lagi karena baginya saya tidak mampu menikmatinya.

Sementara itu, pada dasarnya, saya tidak begitu menyukai ritual semacam itu. Ego saya berpikir bahwa hal-hal semacam itu adalah pemborosan uang dan waktu. Toh, (bagi pikiran naif saya) gizi dan kelezatan makanan seharga belasan ribu sepiring bisa sama saja dengan nasi putih berkecap dengan taburan abon. Sedangkan waktu untuk mencari warung makan dan kemudian menunggu makanan matang amat cukup untuk menyelesaikan membaca sebuah buku.

Ya, tapi cinta ‘mengalahkan’ semuanya. Kami sementara ini masih tinggal berjauhan, yang membuat kami hanya dapat bertemu pada akhir pekan. Tetapi dari jauh, saya pelahan memahami maksudnya untuk mengenalkan saya pada gizi dan kehati-hatian dalam makan. Saya menjadi mengerti ketulusannya untuk membuat saya dapat rileks dan lepas dari penatnya urusan pekerjaan.

Maka, satu demi saatu, saya mulai menyukai es krim dan menikmati romantisme memakannya berdua di ujung mal. Mulai terasa nikmatlah SMS-SMS cerewet yang mengingatkan saya untuk selalu makan sayur pada saat rutinitas diare menyerangku. Dan SMS yang memastikan saya untuk minum susu hangat dan daging saat influenza menerpa di masa pancaroba ini mengantarku pada penemuan terhadap dalamnya makna cinta itu.

Oh ya, akhirnya pula, terasa indahlah suatu pagi di akhir pekan ketika saya pulang dari jauh dengan membawa sekantong tahu…, bukan mawar merah…

[pernah dimuat di Majalah Ummi, edisinya lupa]