Sepasang kakek-nenek…

Mereka masih saja terbayang di wajah. Saat itu ujung Ramadhan 1428, saat aku menyepi dalam keramaian Masjidil Haram. Mereka berdua melintas di lintasan thawaf kursi roda lantai dua Masjidil Haram. Kakek tua dengan tubuh tipis keriput itu tiba-tiba berhenti mendorong kursi roda tempat istrinya duduk. Tepat di hadapanku.

Pelan, sang kakek membisikkan sesuatu di samping istrinya sembari menunjuk ke arah Ka’bah. “Itu Hajar Aswad.., engkau lihat kan? Ayo katakan: Bismillahi Allahu Akbar!” Sang nenek menoleh, mengucapkannya pelan dengan mengangkat tangan kanannya yang rapuh berkeriput.

Sedangkan di sampingnya aku menangis. Di dalam rumah-Nya, kepada Allah, aku hanya sempat berharap, “Ya Allah, jadikanlah cinta kami sebagaimana panjangnya cinta mereka berdua dan dalamnya cinta mereka kepada-Mu”