Boleh jadi, tidak ada kedudukan yang begitu mulia dan dihormati dalam Islam setelah Allah dan Rasul-Nya selain kedudukan seorang laki-lagi sebagai suami. Setidaknya, itulah yang tergambarkan dengan pesan Rasulullah shalaLlaahu ‘alayhi wassalam yang disampaikan oleh Imam Turmudzi rahimullah, “Jika aku diperbolehkan memerintahkan seseorang bersujud kepada manusia yang lain maka akan aku perintahkan kaum perempuan untuk bersujud kepada suaminya, karena Allah subhanahu wata’ala telah menjadikan begitu besarnya hak mereka (suami) atas istri.”

Bahkan, lebih dari itu, dalam riwayat Imam Ahmad rahimahullah, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wassalam menyetarakan sikap ketaatan seorang istri terhadap suaminya dengan sikap ketundukannya terhadap Rabbnya melalui berbagai ritual peribadahan yang menjaminnya masuk surga seperti shalat wajib lima waktu, puasa Ramadhan, dan menjaga kemaluannya. Sehingga, saat membaca pesan-pesan utusan mulia itu, saya – yang kebetulan seorang suami atas seorang istri – sempat berdecak: “Subhanallah!!”

Tetapi, wahai para suami sedunia, marilah kita masuk ke dalam ‘gua’ kita sejenak. Jika Allah mengambil ketaatan makhluq-Nya, itu adalah hal yang semestinya. Itulah harga yang setimpal atas rahmat yang telah Ia hamparkan pada seluruh manusia, tanpa terkecuali. Ia, dalam ke-rububiyahan-Nya, telah melimpahkan nikmat yang terus menerus dan tak terhitung. Maka, sekali lagi, itulah hak-Nya untuk mengambil ketaatan atas para makhluq-Nya. Ketika seorang Muhammad shalallahu ‘alayhi wassalam, meminta ketaatan dari para pengikutnya, itu pun sesuatu yang wajar-wajar saja. Konsekuensi dari keyakinan kita terhadapnya sebagai utusan Allah Rabbul ‘Alamiin adalah kerelaan kita untuk mengikuti jalan-jalannya. Itu pun merupakan penghargaan yang setimpal atas seluruh keteladanan, perjuangan, dan pengorbanannya untuk menghantarkan hidayah Illahiyah kepada manusia diseluruh rentang zaman.

Lalu, wahai para suami sedunia, ketika kita ingin mengambil ketaatan dari seorang makhluq Allah, atas dasar apakah kita mengambilnya?

Ketika Allah memberi, merahmati, dan melimpahkan dengan sepenuh kekuasaan-Nya, adakah kita begitu? Apakah sepincuk dua pincuk nafaqah yang kita berikan itu yang kita sebut memberi? Apakah jemputan dan hantaran dengan motor butut itu yang kita sebut merahmati? Dan apa pula yang telah kita limpahkan? Rumah? Harta? Kedudukan? Dan, ketika seorang Muhammad rela berjuang dan berkorban serta menjadi teladan bagi seluruh manusia termasuk bagi para perempuan pengikutnya, adakah kita bertindak sama?

Di dalam ‘gua’ kita ini, marilah kita bersama-sama belajar untuk memahami. Sungguh mereka – istri-istri kita itu – telah berbuat banyak untuk kita. Memberi lautan kelapangan saat kita sempit dan tertekan di luar. Melimpahkan kehangatan dan pelayanan yang sempurna dengan tanpa menuntut penghargaan setara atasnya. Tulus memberi pengorbanan dengan kerja-kerja domestiknya yang menghalanginya untuk berlaku sebagaimana kita bertindak di luar. Sungguh, mereka telah menempuh jalan-jalan ketuhanan dengan pemberian, kelimpahan, dan pengorbanan.

Di sisi lain, kita – wahai para suami sedunia – mungkin kita justru sedang menempuh jalan yang berbeda. Kita telah me-raja yang dengan kekuasaannya menuntut segalanya tanpa kita berpikir untuk memberi. Kita telah men-dewa dengan menumpukan seluruh kebenaran berbalut rasionalitas di tangan kita tanpa mencoba untuk memahami dan berempati. Mungkin kita telah menyakiti relung hatinya. Mengabaikannya saat mereka butuh. Tidak mendengarkan saat mereka ingin berbagi. Meresahkannya dengan godaan untuk ‘menikah lagi’ yang tak berdasar. Menuntutnya untuk membantu kewajiban nafaqah kita dengan turut bekerja di luar. Atau memepermalukannya dengan meninggalkannya sendirian di terminal, atau di pasar. Saat kita seperti itu, dan kita – atas nama Allah dan Rasul-Nya – menuntut ketaatan mereka, maka sesungguhnya kita telah merendahkan kalimat suci dari Allah dan Rasulnya dengan menjadikannya semata sebagai perisai pelindung sikap hipokrit kita.

Maka, wahai para suami sedunia, marilah kita ke ujung malam untuk menggelar sajadah dalam sepi. Tataplah wajah mereka – para istri kita – dalam lelap damainya. Amati kerut kelelahan di sudut wajahnya, juga lebam hitam di ujung tangannya. Tanyakan pada diri, kapankah kita seperti mereka untuk menemukan jalan ketuhanan yang benar. Mengantarkan mereka menuju jannah-Nya sebagaimana yang Ia tugaskan pada kita: “Wahai orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS At Tahrim 6)

Dalam sepi bersama Rabb semesta alam, atas seluruh kelemahan dan ketidakberdayaan kita, wahai para suami sedunia, menangislah….