Alhamdulillah, kami diberikan kesempatan oleh Allah -subhanahu wata’ala- untuk terbebas dari pergaulan tidak syar’i seperti pacaran.
Kami tidak mengenal sebelumnya. Sekedar nama memang pernah terlintas terdengar. Itu saja. Tidak lebih.
Ustadz dan guru kami yang membantu kami bertemu – bi idznillah. Kami titipkan biodata kami. Kami ceritakan tentang diri kami masing-masing. Lalu, entah bagaimana dan dengan apa mereka mengembara, untuk kemudian akhirnya terpasangkan.
Lalu melalui istikharah. Kemudian ta’aruf singkat di Masjid Agung Yogyakarta (nah lo?). Musyawarah dengan orang tua masing-masing. Hingga pada suatu Juni, saya -sendirian- berangkat melamarnya. Diterima? Tentu saja :) -walhamdulillah.
Maka kami menikah. Kami mencintai membaca, kami putuskan souvenirnya buku. Judulnya “Bersama menggelar sajadah cinta, Membangun masjid bagi Indonesia” (walah!). Isinya tulisan ustadz, guru,dan teman kami tentang makna pernikahan.
Lalu, dunia berputar. Waktu berjalan. Inilah kehidupan kami… Untuk sebuah harapan akhir yang baik di dunia kami dan di akhirat kami.. Begitu..