Engkau tampak begitu menikmati tantangan dunia-mu. Yang menguras kelelakianmu. Saat tiba-tiba di rumah, tempat ‘kedamaian atas keriuhan’-bagimu, tiba-tiba bergejolak.

Istrimu, kekasihmu, menyambutmu dengan ungkapan-ungkapan yang tidak engkau suka. Sebenarnya ia sedang menceritakan perasaannya. Tapi engkau merasa ia mengganggu kebutuhanmu untuk damai. Lalu bahasa tubuhmu menolaknya.

Ia mengkhawatirkan sesuatu. Atau ia ingin menceritakan sesuatu. Tetapi kata-katanya tidak engkau suka. Bahasa perempuan -bagaimanapun-, mungkin bagimu, tidak pernah logis dan rasional, dan sopan..

“Mengapa engkau terlambat?” atau “Mengapa engkau tidak katakan sebelumnya?” atau “Mengapa engkau tidak memahami aku?”

Kemudian engkau merasa disudutkan. Kehangatan dan kedamaian yang engkau harapkan tiba-tiba musnah. Kehormatanmu serasa tercampakkan. Lalu engkau melakukan naluri dasarmu: membela diri. Ya, engkau adalah singa raja hutan yang terhina ketika dipermalukan, maka kau tunjukkan surai, taring, dan cakarmu. Itulah di duniamu yang membuat musuh-musuhmu surut kebelakang.

Istrimu menjadi perasa dan begitu sensitif. Engkau juga.

Istrimu menyampaikan perasaannya. Ia ingin dipahami. Engkau menyampaikan rasiomu. Engkau ingin dipahami.

Istrimu merasakan engkau tidak berempati kepadanya. Engkau berpikir istrimu tidak menghormati keadaanmu.

Istri semakin merasa tidak dimengerti. Engkau semakin merasa dihinakan.

Semua berulang dan berputar.. Berulang dan berputar..
Untuk seharusnya berhenti pada kesadaran dan kepahaman.

Kita saling mencintai bukan?