“Rumah Hidupku”

Kubangun rumah hidupku dari batu, bata, kayu, bambu, tanah air,
tumpah darah, merah putih, biru, kuning, hijau, semua warna. Ada
dana pemerintah, ada bantuan luar negeri, juga barang tentu modal
pertama orang tua. Hidup ini kubangun sendiri, kubentuk coraknya.

Sekaligus majikan dan pembantu, istana dan gudang. Ada botol
kosong dan separuh penuh. Ada gelas jatuh, piring pecah, pena patah.
Tak terhitung kutu dan debu, pakaian, majalah, koran berserakan.
Makanan sembarangan. Suara, bunyi, dari tiap sudut, meledak, berteriak

mengeluh, mengaduh atau nyanyi mendambakan waktu. Ada dipan
lusuh tempat kerja dan istirah. Buku yang tengah dan setengah kubaca
dan yang tak pernah terbuka halaman-halamannya. Tetap gelap, tak

tertangkap sebab jendela pikiran terbuka ke segala arah sedang lampu
menyala, membakar umur. Yang tidur tak bangun karena adzan dan
ayam berkokok. Bikin rumah harus pasang tiang iman yang pokok

(Wing Kardjo)