Kami hidup terpisah lagi. Empat bulan terakhir ini, saya harus hidup sendiri di Riyadh, Saudi Arabia. Menjadi Tenaga Kerja sekaligus menjadi Mahasiswa Pascasarjana di King Saud University. Beberapa bulan sebelumnya kami juga hidup terpisah selama 3 bulan. Saya harus mengerjakan riset dan kuliah prapascasarjana di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, yang kemudian saya tinggalkan.
Salah satu hal yang paling mengiris hati pada saat kami hidup terpisah seperti ini adalah kala saya menyadari bahwa pada saat-saat ini pulalah, putri saya satu-satunya sebenarnya sedang belajar memaknai ayahnya. Ia baru satu tahun ketika ayahnya mulai di Yogya. Ia sedang memaksimalkan betul lisannya untuk memanggil ‘ayah’ dan ‘bunda’, ketika justru ayahnya jarang nampak dalam kesehariannya.
Terbayang, saat ia kaki-kaki kecilnya kencang menemui ayahnya di ruang komputer setelah puas bermain di luaran. Teriaknya menggema, “Ayah!” Teringat saat ia enggan melepaskan diri dari ayahnya untuk ikut pergi shalat ke masjid. Jawabnya selalu riang saat ia membalas pertanyaan ayahnya, “Mau ke mas..?” “jid!” “Mau sha..” “lat!” “Izza di masjid jangan nangis ya..” “Iyaaa…” Atau saat ia ngeyel ikut naik motor saat ayahnya pulang kantor, untuk kemudian jalan-jalan keliling hingga ia tertidur..
Masa gila-gilanya teknologi informasi saat ini sekalipun tak memberi peluang berarti bagi saya untuk memenuhi dahaga ini. Kadang-kadang saya telepon dan bicara padanya. Kadang ia menyambutnya dan bicara apa saja yang ia mau, kadang ia cuek. Saya kirimkan video dan foto ayahnya di Riyadh, tapi entah apa responnya. Fotonya terpajang jadi background monitor. Toh juga tak membantu apapun pada saya untuk memenuhi gumpalan rasa rindu dan tanggung jawab ini.
Istriku memberi kabar, “Izza lagi marah sama paman-nya (adik istri) karena pakai baju dan sarung ayahnya.” “Ini punya ayah!”, katanya. Air mataku menetes..