Kemarin tanggal dua-puluh-sembilan. Sekarang tanggal tiga-puluh. Besok tanggal tiga-puluh-satu.

Istri-ku sudah tiga-puluh.. orang, eh… tiga-puluh tahun usianya. Hmmm.. sudah makin berumur rupanya. Dalam tiga-puluh tahun hidupnya, tiga tahun di antaranya ia hidup bersamaku. Untuk sebuah harapan kebersamaan yang lebih panjang, hingga tiga ratus tahun lagi.. Amiin

Sekarang kami hidup ber-tiga, dengan Izza kami yang lucu itu. Tapi sebentar lagi, hidup istri-ku bakal lebih rame, dengan tiga makhluq yang ada saja ngribetinnya, karena insya Allah Juni ini, adiknya Izza lahir.

Ah jadi inget hadits Nabi -shalallahu ‘alayhi wassalam- ini,

Dari Abu Hurairah -radiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wassalam- bersabda :
(إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له)
Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara : shadaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kepadanya” [HR. Muslim]

Yup, semoga bunda -gitu panggilan sayang kami berdua buatnya-, mulai dari tiga puluh tahun, kemaren, tiga puluh tahun berikutnya, dan tiga puluh tahun berikutnya, hidupnya penuh dengan tiga perkara yang kan menempatkannya di surga.

Dalam tiga-tahunnya kami bersama, istri-ku telah memberi begitu banyak. Istri-ku adalah sparring partner-ku yang paling seru. Seru kalo kami diskusi, seru kalo kami marahan. Rame deh, kalau kami sedang bersilat lidah dan beradu kata. Tidak ada yang mau kalah. Istri-ku yang cerdas itu, yang seringkali bikin daku bego setengah mati. Ia pada saatnya adalah perempuan yang begitu tegar dan mandiri. Kokoh bak karang. Pada saat lainnya, ia begitu rapuh, sensitif, dan melankolis. Ia siap berjumpalitan mengejar ambisi-ambisinya, saat pada waktunya ia tiba-tiba meneteskan air matanya.

Ia yang terbaik untukku dan untuk Izza. Insya Allah.

Untuk semua yang telah istri-ku berikan, suami bodohmu ini cuma bisa bilang, “Thanks, I love you..