Hari yang berat. Pagi-pagi ke Fakultas dan Rektorat, urus exit permit/re-entry visa-ku. Awal Februari rencana pulang ke Indo jemput istri dan anak tersayang. Setelah dokumen exit permit/re-entry beres, masuk ke bagian lain di Rektorat nanya prosedur klaim vacation ticket (alias jatah tiket liburan tahunan). Bos bagian itu bilang sebelum liburan Ied, kalo ndak masalah vacation ticket diklaim pada bulan Februari, asal nanti di liburan musim panas ndak klaim lagi. Ya, memang itu rencananya, toh nanti liburan musim panas memang tidak rencana pulang ke Indo.

Masalah muncul, ketika kepala seksi menjelaskan prosedurnya. Katanya, tiket ndak bisa diklaim sekarang, baru bisa diklaim kalo kontrak satu tahunnya sudah dijalankan dulu. Mungkin takut kalo ada yang melarikan diri dari kontrak. Terus dia cerita lainnya, bla.. bla.. bla.. Tapi kaki sudah lemes, telinga sudah gak bisa lagi mendengarkan.

Kepala langsung pusing. Duit gaji kemarin sudah habis buat haji, sisanya dah dikirim ke Indo untuk betulin rumah. Hidup sepekan ini pake hutang tetangga kamar 50 SR. Itu aja harus diirit-irit, tiap hari maksimum makan dua kali. Bayaran exit permit/re-entry visa yang 200 SR, juga barusan ngutang.

Lha kalo tiket pesawat harus bayar sendiri, gaji bulan depan yang 2000 SR jelas terang benderang gak bakal nutup tiket yang dah di-booking dengan 2350 SR. Terus kapan bayar utang-utang tadi? Terus gimana hidup sampe sebulan kedepan? Terus gimana bisa kirim duit buat rumah?

Padahal gaji juga rencana mau buat beli HP. Sejak hajian, HP-nya rusak. Sekarang malah mati total. Komunikasi jadi susah. Padahal juga rencana mau ngisi kontrakan di Riyadh. Padahal mau buat beli oleh-oleh dan sangu saat pulang ke Indo. Juga buat bayar visa istri-anak di KBSA, buat bayar fiskal di bandara, buat ini.. buat itu… Wong Februari sudah harus pulang. Ya Allah…

Sore, dah janjian sama istri untuk chatting. Setelah HP mati, ini tinggal satu-satunya cara ngobrol. Lha kok ya network-nya mejen ndak karuan. YM yang sudah online pagi-pagi, tiba-tiba putus tanpa kabar-kabar. Putus-nyambung-putus-nyambung tapi lebih banyak putusnya. Lha istri sudah nesu ndak karuan. Disangka ndak online tepat waktu lah. Disangka emang ndak niat chatting lah. Begitu bisa ngirim, istri malah ndak bales. Makin nesu.

Stress begitu, nesu-ku kumat. Keyboard dipencet-pencet ndak karuan. Mbuh lah..

Isya.. nesu-ku mereda.. Ndonga kepada Gusti Allah kang Murbeng Dumadi, “Dhuh Gustiii…, paringana sabar… lan riyaal..”