Keluarga


Hari yang berat. Pagi-pagi ke Fakultas dan Rektorat, urus exit permit/re-entry visa-ku. Awal Februari rencana pulang ke Indo jemput istri dan anak tersayang. Setelah dokumen exit permit/re-entry beres, masuk ke bagian lain di Rektorat nanya prosedur klaim vacation ticket (alias jatah tiket liburan tahunan). Bos bagian itu bilang sebelum liburan Ied, kalo ndak masalah vacation ticket diklaim pada bulan Februari, asal nanti di liburan musim panas ndak klaim lagi. Ya, memang itu rencananya, toh nanti liburan musim panas memang tidak rencana pulang ke Indo.

Masalah muncul, ketika kepala seksi menjelaskan prosedurnya. Katanya, tiket ndak bisa diklaim sekarang, baru bisa diklaim kalo kontrak satu tahunnya sudah dijalankan dulu. Mungkin takut kalo ada yang melarikan diri dari kontrak. Terus dia cerita lainnya, bla.. bla.. bla.. Tapi kaki sudah lemes, telinga sudah gak bisa lagi mendengarkan.

(lagi…)

Entah mengapa, kami seringkali harus sering terpisah. Seminggu setelah kami menikah, kami harus hidup terpisah [duh!]. Istri mesti sekolah, saya mesti bekerja. Dan itu berjalan selama hampir dua tahun. Lalu satu tahun lebih sedikit kami berkumpul penuh, untuk kemudian sekarang terpisah lagi selama setengah tahun.Sampai sekitar dua tahun lagi, saya harus sekolah di Riyadh, Arab Saudi. Sekolah di Arab Saudi ini memenuhi pelengkapan kebutuhan saya dalam ilmu pengetahuan, agama, dan memenuhi kewajiban dari institusi.

Problem muncul ketika rencana kami untuk berkumpul berhadapan dengan banyak tantangan. Rencana pertama, istri sekolah juga di Arab Saudi. Karena istri PNS, izin untuk sekolah lagi relatif lebih mudah. Tapi rencana ini gagal karena bidang studi istri di Arab Saudi tidak menerima program pascasarjana untuk siswa perempuan. Rencana kedua, istri pindah tugas dengan menjalankan tugas perbantuan di Sekolah Indonesia Riyadh milik KBRI. KBRI oke, tapi tidak mau memberi gaji. Nah problem di instansi istri. Instansi istri punya kecenderungan untuk tidak mengizinkan. Wong mereka butuh kok…

(lagi…)

Kami hidup terpisah lagi. Empat bulan terakhir ini, saya harus hidup sendiri di Riyadh, Saudi Arabia. Menjadi Tenaga Kerja sekaligus menjadi Mahasiswa Pascasarjana di King Saud University. Beberapa bulan sebelumnya kami juga hidup terpisah selama 3 bulan. Saya harus mengerjakan riset dan kuliah prapascasarjana di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, yang kemudian saya tinggalkan.

Salah satu hal yang paling mengiris hati pada saat kami hidup terpisah seperti ini adalah kala saya menyadari bahwa pada saat-saat ini pulalah, putri saya satu-satunya sebenarnya sedang belajar memaknai ayahnya.  Ia baru satu tahun ketika ayahnya mulai di Yogya. Ia sedang memaksimalkan betul lisannya untuk memanggil ‘ayah’ dan ‘bunda’, ketika justru ayahnya jarang nampak dalam kesehariannya.

Terbayang, saat ia kaki-kaki kecilnya kencang menemui ayahnya di ruang komputer setelah puas bermain di luaran. Teriaknya menggema, “Ayah!” Teringat saat ia enggan melepaskan diri dari ayahnya untuk ikut pergi shalat ke masjid. Jawabnya selalu riang saat ia membalas pertanyaan ayahnya, “Mau ke mas..?” “jid!” “Mau sha..” “lat!” “Izza di masjid jangan nangis ya..” “Iyaaa…” Atau saat ia ngeyel ikut naik motor saat ayahnya pulang kantor, untuk kemudian jalan-jalan keliling hingga ia tertidur..

Masa gila-gilanya teknologi informasi saat ini sekalipun tak memberi peluang berarti bagi saya untuk memenuhi dahaga ini. Kadang-kadang saya telepon dan bicara padanya. Kadang ia menyambutnya dan bicara apa saja yang ia mau, kadang ia cuek. Saya kirimkan video dan foto ayahnya di Riyadh, tapi entah apa responnya. Fotonya terpajang jadi background monitor. Toh juga tak membantu apapun pada saya untuk memenuhi gumpalan rasa rindu dan tanggung jawab ini.

Istriku memberi kabar, “Izza lagi marah sama paman-nya (adik istri) karena pakai baju dan sarung ayahnya.” “Ini punya ayah!”, katanya. Air mataku menetes..

Ketika seorang aktivis merencanakan membangun keluarga, yang pasti harus tergambar sejak awal di dalam benaknya adalah ia merencanakan sebuah peradaban. Ini logis karena nafas yang ia hirup selama ini adalah nafas gerakan peradaban. Bahkan tanpa ruh gerakan peradaban itu nampaknya keberadaannya sia-sia saja.

Keluarga pada hakekatnya adalah miniatur dari amal jama’i (kerja sama) dalam skala peradaban. Di dalamnya penuh dengan misteri tentang proses ta’aruf, tafahum, ta’awun dan takaaful. Butuh waktu dan komprehensitas pendekatan untuk menjadi saling tahu, saling paham, saling membantu dan saling menanggung hingga menjadi sebuah ultra team bernama keluarga.

(lagi…)

Maha Besar Allah yang menyatukan dua hati manusia, sebagaimana Ia satukan awan, pepohonan, dan gunung-gunung menjadi keindahan. Terpujilah Allah ‘azza wajalla yang mempertemukan dua jiwa manusia, sebagaimana Ia temukan air dan angin menjadi gelombang yang kokoh menggentarkan.

Air bukanlah angin, awan bukanlah pepohonan, sebagaimana gunung bukanlah gelombang. Tetapi, Maha Suci Allah yang tidak pernah menjadikan mereka sekedar pemeran figuran. Allah – Rabb semesta alam – dengan keagungan-Nya memuji mereka sebag ai yang, “bertasbih kepada Allah, apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi…” (QS 61:1, QS 62:1, QS 64:1).

(lagi…)