Pernikahan


[sumber dari Tabloid Nova, edisi ?]

Mulut Anda adalah harimau Anda. Pernah dengar, kan, peribahasa itu? Memang, kata-kata yang kita ucapkan memiliki kekuatan besar Terutama bila kita betul-betul mengerti apa yang terkandung di dalam kata-kata tersebut. Ada beberapa hal yang dapat membantu kita untuk berkomunikasi lebih baik, yaitu dengan cara yang penuh kasih, enak didengar, serta efektif.

Yang jelas, saat membaca saran-saran berikut, secara spontan, jauh di lubuk hati, Anda akan berkata, “Oh, ya, suamiku memang begitu, si Y memang begini,” dan seterusnya. Bahkan, mungkin Anda yang pertama yang menyebarkan tulisan ini pada orang-orang yang menurut Anda perlu diberitahukan. JANGAN LAKUKAN! Nah, sebelum membagi artikel ini dengan teman, pastikan Anda telah mempraktekkannya terlebih dahulu

(lagi…)

Engkau tampak begitu menikmati tantangan dunia-mu. Yang menguras kelelakianmu. Saat tiba-tiba di rumah, tempat ‘kedamaian atas keriuhan’-bagimu, tiba-tiba bergejolak.

Istrimu, kekasihmu, menyambutmu dengan ungkapan-ungkapan yang tidak engkau suka. Sebenarnya ia sedang menceritakan perasaannya. Tapi engkau merasa ia mengganggu kebutuhanmu untuk damai. Lalu bahasa tubuhmu menolaknya.

(lagi…)

Ketika seorang aktivis merencanakan membangun keluarga, yang pasti harus tergambar sejak awal di dalam benaknya adalah ia merencanakan sebuah peradaban. Ini logis karena nafas yang ia hirup selama ini adalah nafas gerakan peradaban. Bahkan tanpa ruh gerakan peradaban itu nampaknya keberadaannya sia-sia saja.

Keluarga pada hakekatnya adalah miniatur dari amal jama’i (kerja sama) dalam skala peradaban. Di dalamnya penuh dengan misteri tentang proses ta’aruf, tafahum, ta’awun dan takaaful. Butuh waktu dan komprehensitas pendekatan untuk menjadi saling tahu, saling paham, saling membantu dan saling menanggung hingga menjadi sebuah ultra team bernama keluarga.

(lagi…)

Alhamdulillah, kami diberikan kesempatan oleh Allah -subhanahu wata’ala- untuk terbebas dari pergaulan tidak syar’i seperti pacaran.

Kami tidak mengenal sebelumnya. Sekedar nama memang pernah terlintas terdengar. Itu saja. Tidak lebih.

(lagi…)

Maha Besar Allah yang menyatukan dua hati manusia, sebagaimana Ia satukan awan, pepohonan, dan gunung-gunung menjadi keindahan. Terpujilah Allah ‘azza wajalla yang mempertemukan dua jiwa manusia, sebagaimana Ia temukan air dan angin menjadi gelombang yang kokoh menggentarkan.

Air bukanlah angin, awan bukanlah pepohonan, sebagaimana gunung bukanlah gelombang. Tetapi, Maha Suci Allah yang tidak pernah menjadikan mereka sekedar pemeran figuran. Allah – Rabb semesta alam – dengan keagungan-Nya memuji mereka sebag ai yang, “bertasbih kepada Allah, apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi…” (QS 61:1, QS 62:1, QS 64:1).

(lagi…)