Suami


Entah mengapa, kami seringkali harus sering terpisah. Seminggu setelah kami menikah, kami harus hidup terpisah [duh!]. Istri mesti sekolah, saya mesti bekerja. Dan itu berjalan selama hampir dua tahun. Lalu satu tahun lebih sedikit kami berkumpul penuh, untuk kemudian sekarang terpisah lagi selama setengah tahun.Sampai sekitar dua tahun lagi, saya harus sekolah di Riyadh, Arab Saudi. Sekolah di Arab Saudi ini memenuhi pelengkapan kebutuhan saya dalam ilmu pengetahuan, agama, dan memenuhi kewajiban dari institusi.

Problem muncul ketika rencana kami untuk berkumpul berhadapan dengan banyak tantangan. Rencana pertama, istri sekolah juga di Arab Saudi. Karena istri PNS, izin untuk sekolah lagi relatif lebih mudah. Tapi rencana ini gagal karena bidang studi istri di Arab Saudi tidak menerima program pascasarjana untuk siswa perempuan. Rencana kedua, istri pindah tugas dengan menjalankan tugas perbantuan di Sekolah Indonesia Riyadh milik KBRI. KBRI oke, tapi tidak mau memberi gaji. Nah problem di instansi istri. Instansi istri punya kecenderungan untuk tidak mengizinkan. Wong mereka butuh kok…

(lagi…)

Abu Hurayrah -radiyallahu ‘anhu-, bercerita :

“Bahwa ada seorang datang kepada Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wassalam- dan berkata : “Wahai Rasulullah, aku telah binasa!” 

Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wassalam- bersabda: “Wahai, celaka engkau!”

Orang itu berkata: “Aku telah menggauli istriku di bulan Ramadhan!”

Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wassalam- bersabda: “Merdekakanlah seorang budak!”

Ia menjawab: “Aku tidak punya!”

Beliau -shalallahu ‘alayhi wassalam- bersabda: “Puasalah 2 bulan berturut-turut!”

Ia menjawab: “Aku tidak mampu!”

Beliau -shalallahu ‘alayhi wassalam- bersabda: “Berilah makan 60 orang miskin!”

Ia menjawab: “Aku tidak punya!”

Kemudian beliau -shalallahu ‘alayhi wassalam- diberi sekeranjang kurma dan bersabda: “Ambil ini dan bersedekahlah dengannya!”

Ia bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah kepada selain keluargaku? Demi Allah yang jiwaku ada di Tangan-Nya, tidak ada di antara kedua sisi Madinah yang lebih memerlukan daripada aku!”

Maka Nabi -shalallahu ‘alayhi wassalam- tersenyum hingga terlihat gigi taringnya, Beliau -shalallahu ‘alayhi wassalam- bersabda: “Ambillah, dan berilah makan keluargamu!”

(HR Bukhari: 6021, 6333)

[sumber dari Tabloid Nova, edisi ?]

Mulut Anda adalah harimau Anda. Pernah dengar, kan, peribahasa itu? Memang, kata-kata yang kita ucapkan memiliki kekuatan besar Terutama bila kita betul-betul mengerti apa yang terkandung di dalam kata-kata tersebut. Ada beberapa hal yang dapat membantu kita untuk berkomunikasi lebih baik, yaitu dengan cara yang penuh kasih, enak didengar, serta efektif.

Yang jelas, saat membaca saran-saran berikut, secara spontan, jauh di lubuk hati, Anda akan berkata, “Oh, ya, suamiku memang begitu, si Y memang begini,” dan seterusnya. Bahkan, mungkin Anda yang pertama yang menyebarkan tulisan ini pada orang-orang yang menurut Anda perlu diberitahukan. JANGAN LAKUKAN! Nah, sebelum membagi artikel ini dengan teman, pastikan Anda telah mempraktekkannya terlebih dahulu

(lagi…)

Engkau tampak begitu menikmati tantangan dunia-mu. Yang menguras kelelakianmu. Saat tiba-tiba di rumah, tempat ‘kedamaian atas keriuhan’-bagimu, tiba-tiba bergejolak.

Istrimu, kekasihmu, menyambutmu dengan ungkapan-ungkapan yang tidak engkau suka. Sebenarnya ia sedang menceritakan perasaannya. Tapi engkau merasa ia mengganggu kebutuhanmu untuk damai. Lalu bahasa tubuhmu menolaknya.

(lagi…)

Suatu pagi sebuah SMS datang..

“Sejak kapan engkau mulai mencintaiku?” “Bagaimana rasanya?”

Aku terdiam. Untuk kemudian jempolku bergerak..

“Pada suatu dhuha, saat aku berkata: “Bismillah.. Ya!”" “Rasanya? …. Hangat!”

Lalu tombol ’sent’ kutekan perlahan..

Bayangkan, tentang seorang istri yang harus ditinggal suaminya jadi te-ka-i di Saudi Arabia. Mencari riyal. Sendiri dia merawat anak perempuan tunggalnya. Sementara sang istri ternyata masih harus juga bekerja sebagai seorang PNS di daerah Purwokerto, Jawa Tengah. Sedangkan ia juga aktivis dengan banyak organisasi dan kegiatan.

Sang suami pergi meninggalkan berbagai tanggungan. Hutang uang untuk keberangkatan, cicilan rumah, cicilan komputer, pajak sepeda motor, tagihan bulanan listrik, telepon. Belum lagi renovasi rumah yang belum selesai. Hingga si istri harus repot-repot nyari tukang dan belanja material bangunan..

Lalu, itu semua harus si istri jalani saat ia sedang hamil..

Sedihnya lagi.., dia yang menanggung begitu banyak beban itu.. adalah istriku!

Dan parahnya, aku, suaminya, malah asyik ngeblog!!!

Sepasang kakek-nenek…

Mereka masih saja terbayang di wajah. Saat itu ujung Ramadhan 1428, saat aku menyepi dalam keramaian Masjidil Haram. Mereka berdua melintas di lintasan thawaf kursi roda lantai dua Masjidil Haram. Kakek tua dengan tubuh tipis keriput itu tiba-tiba berhenti mendorong kursi roda tempat istrinya duduk. Tepat di hadapanku.

Pelan, sang kakek membisikkan sesuatu di samping istrinya sembari menunjuk ke arah Ka’bah. “Itu Hajar Aswad.., engkau lihat kan? Ayo katakan: Bismillahi Allahu Akbar!” Sang nenek menoleh, mengucapkannya pelan dengan mengangkat tangan kanannya yang rapuh berkeriput.

Sedangkan di sampingnya aku menangis. Di dalam rumah-Nya, kepada Allah, aku hanya sempat berharap, “Ya Allah, jadikanlah cinta kami sebagaimana panjangnya cinta mereka berdua dan dalamnya cinta mereka kepada-Mu”

Boleh jadi, tidak ada kedudukan yang begitu mulia dan dihormati dalam Islam setelah Allah dan Rasul-Nya selain kedudukan seorang laki-lagi sebagai suami. Setidaknya, itulah yang tergambarkan dengan pesan Rasulullah shalaLlaahu ‘alayhi wassalam yang disampaikan oleh Imam Turmudzi rahimullah, “Jika aku diperbolehkan memerintahkan seseorang bersujud kepada manusia yang lain maka akan aku perintahkan kaum perempuan untuk bersujud kepada suaminya, karena Allah subhanahu wata’ala telah menjadikan begitu besarnya hak mereka (suami) atas istri.”

Bahkan, lebih dari itu, dalam riwayat Imam Ahmad rahimahullah, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wassalam menyetarakan sikap ketaatan seorang istri terhadap suaminya dengan sikap ketundukannya terhadap Rabbnya melalui berbagai ritual peribadahan yang menjaminnya masuk surga seperti shalat wajib lima waktu, puasa Ramadhan, dan menjaga kemaluannya. Sehingga, saat membaca pesan-pesan utusan mulia itu, saya – yang kebetulan seorang suami atas seorang istri – sempat berdecak: “Subhanallah!!”

(lagi…)

Tidak ada yang lebih mengesalkan saya daripada kecerewetan pembicaraan tentang makanan. Bagi saya, pembicaraan semacam itu adalah pembicaraan ‘rendah’, seolah hidup itu begitu berorientasi pada perut. Selama ini, saya tumbuh dan besar dengan pemahaman yang begitu substantif dan naif tentang makanan, yaitu semata sebagai ‘prosedur’ untuk untuk hidup. Sehingga praktis, saya akan merasa sangat kesulitan untuk menjawab pertanyaan tentang makanan apa yang saya sukai. Bagi saya, itu adalah pertanyaan salah, karena saya hampir-hampir tidak memiliki makanan favorit. Semua suka, dan apapun ‘masuk’. Apatah lagi perbincangan tentang macam-macam warung makan atawa restoran beserta ragam makanan khas jualannya masing-masing. Sungguh, kalau sudah begitu, saya memilih untuk ‘nyengir’ dan merespon untuk setuju saja.

(lagi…)