Maafkan aku, tapi aku sangat ingin mengulang-ulang membaca dalam diam puisi ini.., untuk istriku..

“Dalam Doaku”

dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak
memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima
cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan
menerima suara-suara

ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku
kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,
yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil
kepada angin yang mendesau entah dari mana

dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang
mengibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap
di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan
mangga itu

magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat
pelahan dari nun di sana, yang bersijingkat di jalan kecil
itu menyusup di celah-celah jendela dan pintu dan
menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi
dan bulu-bulu mataku

dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku yang dengan
sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,
yang dengan setia mengusut rahasia demi rahasia, yang
tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai
mendoakan keselamatanmu.

(Sapardi Djoko Damono)

Kami menyukai do’a beliau yang beliau tuliskan di selembar kertas untuk kami ini,

Doa Mahfuz Sidik

Bayangkan, tentang seorang istri yang harus ditinggal suaminya jadi te-ka-i di Saudi Arabia. Mencari riyal. Sendiri dia merawat anak perempuan tunggalnya. Sementara sang istri ternyata masih harus juga bekerja sebagai seorang PNS di daerah Purwokerto, Jawa Tengah. Sedangkan ia juga aktivis dengan banyak organisasi dan kegiatan.

Sang suami pergi meninggalkan berbagai tanggungan. Hutang uang untuk keberangkatan, cicilan rumah, cicilan komputer, pajak sepeda motor, tagihan bulanan listrik, telepon. Belum lagi renovasi rumah yang belum selesai. Hingga si istri harus repot-repot nyari tukang dan belanja material bangunan..

Lalu, itu semua harus si istri jalani saat ia sedang hamil..

Sedihnya lagi.., dia yang menanggung begitu banyak beban itu.. adalah istriku!

Dan parahnya, aku, suaminya, malah asyik ngeblog!!!

Kami menyukai puisi. Dan kalau sedang terhinggap cinta, mana lagi kalau bukan puisi-puisi lirisnya Sapardi Djoko Damono yang harus kami kutip?

Lalu puisi Sapardi mana lagi yang harus kami pilih kalau bukan…

“Aku Ingin”

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Damono, 1989)

atau ini..

“Hujan Bulan Juni”

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Damono)

benar kan?

Ketika seorang aktivis merencanakan membangun keluarga, yang pasti harus tergambar sejak awal di dalam benaknya adalah ia merencanakan sebuah peradaban. Ini logis karena nafas yang ia hirup selama ini adalah nafas gerakan peradaban. Bahkan tanpa ruh gerakan peradaban itu nampaknya keberadaannya sia-sia saja.

Keluarga pada hakekatnya adalah miniatur dari amal jama’i (kerja sama) dalam skala peradaban. Di dalamnya penuh dengan misteri tentang proses ta’aruf, tafahum, ta’awun dan takaaful. Butuh waktu dan komprehensitas pendekatan untuk menjadi saling tahu, saling paham, saling membantu dan saling menanggung hingga menjadi sebuah ultra team bernama keluarga.

(lagi…)

Alhamdulillah, kami diberikan kesempatan oleh Allah -subhanahu wata’ala- untuk terbebas dari pergaulan tidak syar’i seperti pacaran.

Kami tidak mengenal sebelumnya. Sekedar nama memang pernah terlintas terdengar. Itu saja. Tidak lebih.

(lagi…)

Mahasuci Allah yang mengutus Rasul-Nya Muhammad shalallahu ‘alayhi wassalam sebagai manusia sebagaimana adanya. Sehingga, kepadanyalah kami mengambil teladan…, termasuk tentang urusan uang belanja kami.. ;)

Jabir bin Abdillah -radiyallahu ‘anhu- bercerita:

“Abu Bakar ingin menemui Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wassalam-, lalu mendapati orang-orang duduk di depan pintu Rasulullah tanpa ada yang diizinkan masuk. Abu Bakar lalu diizinkan. Kemudian datang Umar dan diizinkan untuk masuk. Ternyata dia mendapati Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wassalam- sedang duduk terdiam dikerumuni oleh para istrinya, maka dia berkata dalam dirinya :

(lagi…)

Sepasang kakek-nenek…

Mereka masih saja terbayang di wajah. Saat itu ujung Ramadhan 1428, saat aku menyepi dalam keramaian Masjidil Haram. Mereka berdua melintas di lintasan thawaf kursi roda lantai dua Masjidil Haram. Kakek tua dengan tubuh tipis keriput itu tiba-tiba berhenti mendorong kursi roda tempat istrinya duduk. Tepat di hadapanku.

Pelan, sang kakek membisikkan sesuatu di samping istrinya sembari menunjuk ke arah Ka’bah. “Itu Hajar Aswad.., engkau lihat kan? Ayo katakan: Bismillahi Allahu Akbar!” Sang nenek menoleh, mengucapkannya pelan dengan mengangkat tangan kanannya yang rapuh berkeriput.

Sedangkan di sampingnya aku menangis. Di dalam rumah-Nya, kepada Allah, aku hanya sempat berharap, “Ya Allah, jadikanlah cinta kami sebagaimana panjangnya cinta mereka berdua dan dalamnya cinta mereka kepada-Mu”

Maha Besar Allah yang menyatukan dua hati manusia, sebagaimana Ia satukan awan, pepohonan, dan gunung-gunung menjadi keindahan. Terpujilah Allah ‘azza wajalla yang mempertemukan dua jiwa manusia, sebagaimana Ia temukan air dan angin menjadi gelombang yang kokoh menggentarkan.

Air bukanlah angin, awan bukanlah pepohonan, sebagaimana gunung bukanlah gelombang. Tetapi, Maha Suci Allah yang tidak pernah menjadikan mereka sekedar pemeran figuran. Allah – Rabb semesta alam – dengan keagungan-Nya memuji mereka sebag ai yang, “bertasbih kepada Allah, apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi…” (QS 61:1, QS 62:1, QS 64:1).

(lagi…)

Boleh jadi, tidak ada kedudukan yang begitu mulia dan dihormati dalam Islam setelah Allah dan Rasul-Nya selain kedudukan seorang laki-lagi sebagai suami. Setidaknya, itulah yang tergambarkan dengan pesan Rasulullah shalaLlaahu ‘alayhi wassalam yang disampaikan oleh Imam Turmudzi rahimullah, “Jika aku diperbolehkan memerintahkan seseorang bersujud kepada manusia yang lain maka akan aku perintahkan kaum perempuan untuk bersujud kepada suaminya, karena Allah subhanahu wata’ala telah menjadikan begitu besarnya hak mereka (suami) atas istri.”

Bahkan, lebih dari itu, dalam riwayat Imam Ahmad rahimahullah, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wassalam menyetarakan sikap ketaatan seorang istri terhadap suaminya dengan sikap ketundukannya terhadap Rabbnya melalui berbagai ritual peribadahan yang menjaminnya masuk surga seperti shalat wajib lima waktu, puasa Ramadhan, dan menjaga kemaluannya. Sehingga, saat membaca pesan-pesan utusan mulia itu, saya – yang kebetulan seorang suami atas seorang istri – sempat berdecak: “Subhanallah!!”

(lagi…)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »