Jumat, 5 Nov 2010
Ka’bah
![]()
Petronas Tower
![]()
Jumat, 5 Nov 2010
Al Haram 01
![]()
Al Haram 04
![]()
Al Haram 05
![]()
Rabu, 27 Okt 2010
Tapi Engkau Tidak: Surat seorang Istri, November 1945
Posted by iem under Cinta, Istri, Puisi, Suami, Syair | Tag: cinta, Istri, komunikasi, puisi, Suami |Leave a Comment
Ingatkah engkau saat aku merusakkan sepeda tua kekayaan kita itu?
Kusangka engkau akan memarahiku
Tapi engkau tidak
Ingatkah engkau saat aku mencelamu karena kemiskinan kita?
Kusangka engkau akan membenciku
Tapi engkau tidak
Ingatkah engkau saat aku mengataimu karena rasa cemburuku?
Kusangka engkau akan meninggalkanku
Tapi engkau tidak
Ada banyak hal indah yang telah engkau lakukan untukku
untuk kebahagiaanku, karena cintamu padaku
Karena itu ada banyak yang ingin kuceritakan padamu
saat engkau pulang dari penyerbuan ke benteng Jepang itu
Tapi engkau tidak
–adaptasi bebas dari “But you didn’t” (Merrill Glass)
Rabu, 27 Okt 2010
Ta’adud… Dud…
Posted by iem under Humor, Istri | Tag: Istri, komunikasi, Pernikahan, poligami, Suami |Leave a Comment
…………
…………
Suami: Tapi bagaimanapun ta’adud itu kan sunnah Nabi
Istri: Kamu beneran pengin ikuti sunnah Nabi-mu?
Suami: mmm… mestinya…
Istri: Nabi itu baru ta’adud setelah Khadijah -istri pertamanya- meninggal.
Suami: Maksudmu?
Istri: Ta’adudmu tunda dulu sampai aku dud*…
Suami: ……
…………
…………
*[atau baca: langkahi dulu mayatku]
Rabu, 27 Okt 2010
Jujur itu (tidak?) selalu indah
Posted by iem under Cinta, Humor, Istri | Tag: cinta, Istri, komunikasi, Suami |Leave a Comment
Sepasang suami istri itu bergandengan mesra ke peraduan.
Bertahun mereka menikah, kini saat anak-anak besar, mereka menemukan kembali kebahagiaan masa muda mereka.
Tiba-tiba sang istri mendekat ke cermin besar di sudut kamar. Menatap bayang wajahnya dengan dalam.
“Tahukah sayang,” katanya, “Aku menatap cermin dan aku melihat seorang wanita tua di dalamnya. Wajahku mulai keriput, rambutku mulai beruban, kulitku kendor, dan tubuhku makin gemuk.”
Lalu ia berbalik menatap sang suami, “Sayang, ayolah berikan aku pujian yang bisa membuatku senang.”
Sang suami terdiam dan berpikir sejenak, sebelum akhirnya dengan lembut dan kalem, “Sayangku, percayalah bahwa matamu masih tajam dan penglihatanmu memang benar.”
— lalu sebuah tendangan kecil mampir di betis sang suami —
Rabu, 27 Okt 2010
Mengapa ‘mengapa’ itu bisa menjadi begitu rumit
Posted by iem under Anak | Tag: Anak, cerdas, tanya |Leave a Comment
ANAK: Ayah, apakah engkau sedang di kamar mandi?
AYAH: Ya, ayah sedang mandi.
ANAK: Mengapa?
AYAH: Badan ayah kotor. Mandi itu membuat badan ayah bersih.
ANAK: Mengapa?
AYAH: Mengapa mandi membuat ayah jadi bersih?
ANAK: Ya.
AYAH: Karena saat menggunakan sabun, air akan membersihkan kotoran pada tubuh ayah.
ANAK: Mengapa?
AYAH: Mengapa ayah menggunakan sabun?
ANAK: Ya.
AYAH: Karena sabun akan menangkap kotoran dan dengan itu akan mudah dibersihkan dengan air.
ANAK: Mengapa?
AYAH: Mengapa sabun menangkap kotoran?
ANAK: Ya.
AYAH: Karena sabun adalah surfaktan.
ANAK: Mengapa?
AYAH: Mengapa sabun itu surfaktan?
ANAK: Ya.
AYAH: Pertanyaan yang BAGUS Nak. Sabun adalah surfaktan karena sabun akan membentuk misel yang larut dalam air yang dapat memerangkap kotoran tak larut dan partikel minyak.
ANAK: Mengapa?
AYAH: Mengapa sabun membentuk misel?
ANAK: Ya.
AYAH: Molekul sabun itu berwujud rantai panjang dengan ujung kepala hidrofilik yang polar, dan memiliki ekor hidrofobik yang non-polar. Dapatkah kamu mengatakan ‘hidrofilik’?
ANAK: Iidlopilik
AYAH: Dan bisakah kamu mengucapkan ‘hidrofobik’?
ANAK: Iidlopoobik
AYAH: Bagus! ‘Hidrofobik’ artinya bahwa ia membenci air.
ANAK: Mengapa?
AYAH: Mengapa dia artinya begitu?
ANAK: Ya.
AYAH: Itu bahasa Yunani! ‘Hidro’ itu artinya air dan ‘fobia’ artinya ‘takut pada sesuatu’. ‘Phobos’ artinya ketakutan. Jadi ‘hidrofobik’ artinya ‘takut air’.
ANAK: Seperti monster?
AYAH: Maksudmu, seperti takut pada monster?
ANAK: Ya.
AYAH: Ya, ia seperti monster yang mengerikan. Jika kamu takut monster, orang Yunani akan memanggilmu gorgofobik.
(diam)
ANAK: (memutar matanya) Bukankah kita sedang berbicara tentang sabun.
AYAH: Ya. Kita memang kita sedang berbicara tentang sabun.
(kembali terdiam)
ANAK: Mengapa?
AYAH: Mengapa molekul memiliki kepala hidrofilik dan ekor hidrofobik?
SARAH: Ya.
AYAH: Karena ikatan C-O di kepala molekul itu sangat polar, dan ikatan C-H bersifat non-polar.
ANAK: Mengapa?
AYAH: Karena karbon dan hidrogen memiliki elektronegativitas yang hampir sama, sedangkan oksigen jauh lebih elektronegatif, sehingga memolarisasi ikatan C-O.
ANAK: Mengapa?
AYAH: Mengapa oksigen lebih elektronegatif daripada karbon dan hidrogen?
ANAK: Ya.
AYAH: Itu rumit. Ada jawaban berbeda untuk pertanyaan itu, tergantung pada apakah engkau sedang berbicara tentang skala elektronegativitas Pauling atau skala Mulliken. Skala Pauling didasarkan pada perbedaan kekuatan ikatan homonuklir melawan heteronuklir, sedangkan skala Mulliken didasarkan pada sifat-sifat atom dari afinitas elektron dan energi ionisasi. Tetapi semuanya bermuara pada muatan efektif inti. Elektron valensi dalam sebuah atom oksigen memiliki energi yang lebih rendah daripada atom karbon, dan elektron di antara mereka terikat lebih erat pada oksigen, karena elektron dalam atom oksigen memiliki muatan inti yang lebih besar dan karena itu memiliki daya tarik yang lebih kuat ke inti atom! Cool, kan?
(diam)
ANAK: Aku tidak mengerti.
AYAH: Tidak apa-apa, Nak. Demikian pula sebagian besar mahasiswa ayah.
Terjemahan bebas dari: http://goo.gl/eBcv
Sabtu, 22 Mei 2010
RITTBKR: sebuah cinta yang tak terucap
Posted by iem under Anak, Istri, Keluarga, Pernikahan, Suami | Tag: cinta, Istri, Keluarga, Pernikahan, Suami |Leave a Comment
Senja itu, aku memilih duduk di teras. Memandang hampa sudut temu langit pada bumi.
Hiruk pikuk sepekan ini telah reda. Hanya pembantu yang masih sibuk membersihkan dan menata ulang ruangan.
Anak-anak sedang istirahat dari kelelahan mereka.
Pekan ini telah begitu menguras air mata mereka, air mataku juga.
Ayah mereka telah pergi. Kembali ke Penciptanya.
Sedih, sunyi, kosong.
Tiba-tiba terdengar suara pembantu tepat di belakangku, “Bu, saya nemu kertas-kertas lagi!”
Kuambil kertas-kertas karton tak beraturan itu, “Darimana kamu dapat?”
“Di ruang tengah Bu, jadi ganjal-ganjal kursi.”
Aku tersenyum. Entah kali keberapa kami menemukan kertas atau benda dengan tulisan aneh di tempat yang tidak biasa di rumah ini.
Anak-anak dan pembantu sudah kuminta untuk menyerahkan padaku apabila menemukan benda-benda semacam itu.
Di atas meja, kutata kertas-kertas yang menyerupai puzzle itu.
Tidak terlalu sulit.
Gambar ‘rahasia’ itu pun terlihat jelas. Gambar jantung hati pink dengan kata ‘RITTBKR’ di tengahnya.
Kemarin, tetangga yang membantu menemukan gelas-gelas yang jarang kami pakai ditulisi dengan spidol.
Tepatnya ada tujuh gelas, berturut-turut dengan huruf-huruf ‘R’,'I’,'T’,'T’,'B’,'K’, dan ‘R’ di alasnya.
‘RITTBKR’ mungkin tidak berarti bagi orang lain, tetapi bagiku itu adalah ekspresi cinta.
Suamiku bukan orang yang romantis. Susah sekali baginya untuk memanggilku dengan kata “sayang”, atau mengucapkan “I love you”, atau memberi hadiah bunga mawar sebagaimana suami-suami yang lain.
Ia suka ngeyel. Alasannya, orang Banyumas seperti dia itu memang berbakat tidak romantis.
“I love you” katanya, kalau diterjemahkan dalam bahasa Banyumas menjadi “Inyong tuli tresna banget karo rika!”.
Dengan logat Banyumas, kalimat itu makin menjadi tidak romantis. Begitu eyelnya suatu ketika.
Maka ia tetap nekad sulit bilang “I love you” atau semacamnya.
Setiap didesak, ia memilih bilang, “Ya udah, RITTBKR ya!”
R adalah inisialku, I adalah ‘inyong’, bisa pula inisialnya, sementara sisanya adalah singkatan dari “tuli tresna banget karo rika”.
Tetap tidak romantis memang. Tapi itulah pasangan hidupku.
Lisannya mungkin sulit untuk romantis, tetapi kutahu jemarinya jauh lebih terampil berbicara cinta.
Acap kali kuminta ia untuk memijatku, ia mendahuluinya dengan menuliskan ‘RITTBKR’ dengan jarinya di punggungku.
Ia suka menyelipkan potongan kertas dengan tulisan “RITTBKR” di dalam tas kerjaku, di sela-sela buku kuliahku, atau di dalam sepatu dan kauskakiku.
“Ibu, ini ada kertas lagi,” angsur pembantuku.
‘RITTBKR’ tebakku. Oh bukan, tetapi tulisan “wolframalpha.com: polar r=(sin(t)*sqrt(abs(cos(t))))/(sin(t) + 7/5) -2*sin(t) + 2″.
Segera kuambil laptop, buka browser. Dan aku kembali tersenyum.
“Ya suamiku, I love you too,” ujarku lirih.
***
Hari-hari berikutnya adalah hari penemuan harta karun sandi-sandi cinta.
Putri sulungku menemukan tulisan “lovemedia.tumblr.com” di bawah termos.
Situs yang penuh gambar hati dan bayi lucu.
Anak keduaku menemukan tulisan “facebook/rittbkr”.
Kubuka, dan hanya kutemukan akun yang sepi, yang halaman pertamanya masih meminta untuk mengundang kontak emailnya menjadi teman di facebook.
Hanya satu status: “Facebook, kuhargai permintaanmu. Tetapi bagiku, teman hidupku cukuplah dia. RITTBKR.”
Aku tersenyum.
Si bungsu menemukan akun twitter, apalagi kalau bukan rittbkr.
Kali ini aku berkaca-kaca. Akun itu penuh dengan ungkapan-ungkapan cintanya yang penuh rahasia.
Meski tidak ada satu pun follower-nya, meski tidak ada yang mengikuti hashtag #rittbkr, meski tidak ada yang retweet (RT).
Kutahu hashtag-nya tidak akan pernah sekalipun menjadi ‘trending topics’ bagi twitter, tapi ia adalah ‘trending topics’ bagiku. Selamanya.
Tiba-tiba kusadar, ia telah merajalelakan cintanya melalui dunia maya.
Bergegas, browserku kuarahkan ke Google.
Sedikit berharap ‘RITTBKR’ menjadi Google Doodle, menggantikan logo asli Google.
Ah ternyata tidak. Aku tersenyum.
Kumasukkan ‘RITTBKR’ di kolom pencari.
Search!
Kata aneh semacam itu hanya memberikan beberapa hasil di Google.
Di Google Map, ada ‘RITTBKR’ di titik tempat kami menikah dahulu.
Di Youtube, kutemukan satu video ‘RITTBKR’. Tampak seorang lelaki yang ganteng tetapi konyol sedang berbusa-busa bicara cinta.
Aku tersenyum.
Di Flickr, kutemuka akun yang berisi gambar lelaki ganteng yang sama, sedang menuliskan “RITTBKR” di pasir pantai, membuat susunan tulisan “RITTBKR” dari ranting, dan foto-foto konyol serupa itu.
Ah, lelaki itu tidak menyerah juga dengan cintanya.
Terakhir, aku mencari di ebay.
Saat kutemukan ada orang yang menjual potongan kertas dengan “RITTBKR” di atasnya seharga $1000.
Ku-klik, muncul keterangan tentang tidak ada yang boleh membelinya kecuali seseorang sahaja.
Kutahu, itu diriku.
***
Selepas itu, tentu masih ada saja yang kutemukan.
Ia serasa masih bersamaku dan sedang bermain-main dengan harta karun cintanya “RITTBKR”.
Pada senja yang sama di teras yang sama, lima tahun berikutnya.
Seseorang tampak datang membawa surat, dari Australia.
Kubuka surat dalam bahasa Inggris itu, terjemahannya,
“Kami menemukan botol yang berisi kertas yang terbungkus plastik ini yang mengapung di dekat yacht kami.
Isinya tentu saja sesuatu yang kami yakin sangat berarti buatmu. Kami mengirimkannya kepadamu.
PS: Tampaknya isinya sesuatu yang amat romantis.”
Kubuka plastik itu, dan …
“RITTBKR, lihat, aku tidak menyerah bukan? ;-)
:7488257″
Kamis, 20 Mei 2010
Tidak Ada Jenderal Di Depan Isteri…
Posted by iem under Istri, Keluarga, Suami | Tag: Istri, khattab, komunikasi, Pernikahan, Suami, umar |Leave a Comment
oleh Abdullah Haidir
“Bukankah engkau mengaku sebagai utusan Allah..?” kata Aisyah kepada Rasulullah saw penuh cemburu, suatu saat dalam sebuah perjalanan. Pasalnya, Rasulullah saw meminta agar barang-barang yang sedikit di ontanya ditukar dengan barang-barang yang banyak di onta Shafiah (Isteri Rasullah saw lainnya). Karena onta Aisyah gagah sedangkan onta Shafiah lambat. Demikian Al-Haitsami meriwayatkannya dalam kitabnya, Majma Az-Zawaid.
Ada pelajaran berharga dari cuplikan ‘pernak pernik’ rumah tanggal Rasulullah saw di atas.Yaitu bahwa pasangan suami isteri memiliki pola komunikasi yang khas. Kekhasan yang apabila dikelola dengan bijak dapat menjadi kehangatan hidup berumah tangga.
Ucapan Aisyah radhiallahu anha di atas, jika dilihat dari sudut pandang aqidah, jelas sangat bermasalah, karena dapat dipahami meragukan kerasulan Nabi saw. Namun, tidak demikian halnya jika dilihat dari kekhasan pola komunikasi suami isteri. Yang tampak justeru emosi cinta yang terungkap secara verbal dan refleks melampaui batas-batas pemahaman normatif. Karenanya, menyikapi hal tersebut, Rasulullah saw hanya tersenyum, bahkan ketika Abu Bakar hendak menegurnya, beliau memintanya untuk membiarkannya, sambil berkata, ‘Sesungguhnya, sifat cemburunya membuat dia tidak dapat melihat dasar lembah dari ketinggian.’
Di antara bentuk komunikasi suami isteri yang sehat adalah manakala komunikasinya telah bersifat lepas, tidak ‘anggah ungguh’, serta tidak terbelenggu oleh simbol dan kedudukan yang ada pada masing-masing pasangan. Tentu saja, setelah hak dan kewajibannya telah dipahami masing-masing.
Pola komunikasi seperti ini, hanya dapat terwujud jika masing-masing pasangan memainkan perannya secara total dalam kehidupan rumah tangga. Namun hal tersebut bukan sesuatu yang dapat terwujud karena pandai berakting ala bintang film yang justeru banyak gagal dalam kehidupan rumah tangga sesungguhnya, tapi yang dibutuhkan adalah ketulusan cinta dan perasaan saling memiliki.
Maka, seorang isteri, walaupun misalnya dia memiliki jabatan terhormat, namun di rumah, jika komunikasi khas tersebut sudah terbentuk, sang suami bisa dengan santainya berkata, ‘Ma, buatkan teh untuk papa dong…’ Atau, seorang jenderal yang diluar begitu ditakuti bawahannya, di rumah, boleh jadi sang isteri dengan enteng mengomelinya karena pulang kemalaman. Karenanya…. ‘Tidak ada jenderal di depan isteri…..’
Jika banyak bujangan atau gadis yang sedang ‘mencari-cari’ mengangankan calon pendampingnya dengan sederet status dan simbol kehidupan. Maka, ketika sudah berkeluarga, justeru itulah yang sering menjadi kendala dalam membangun komunikasi hangat antar suami isteri. Tidak jarang kehangatan komunikasi itu terganggu, karena status dan simbol-simbol tersebut masih mendominasi atmosfer komunikasi di antara mereka. Justeru ketika itu, yang paling diinginkan suami adalah seorang isteri yang bertindak sebagai ‘isteri’, bukan sebagai dokter, guru, lulusan universitas ternama, anak orang kaya, dll. Begitu pula yang diinginkan isteri dari suaminya.
Suatu saat, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, ada seseorang yang ingin mengadukan kepada sang Khalifah tentang sikap isterinya yang suka mengomelinya. Namun setibanya di dekat rumah sang Khalifah, dia mengurungkan niatnya. Apa pasal? Rupanya dari dalam rumah Khalifah, dia mendengar sang isteri sedang memarahi Khalifah. ‘Kalau khalifah saja dimarahi isterinya, apalagi saya…’ pikirnya…
Jika dari ‘omelan’ bisa berbuah kehangatan dalam rumah tangga, apalagi canda tawanya….. ya Allah, kumpulkan kami di surga sebagaimana kami dikumpulkan di dunia.
Riyadh, Jumadal Ula 1431H.
Kamis, 20 Mei 2010
– untuk haidar
bintik-bintik kecil itu memang ingin menemanimu
mereka hadir di kaki kecilmu, menyela di lipatan tanganmu
bertahta di punggungmu, menandai wajah lucumu
kutahu gelisah menyakiti tidurmu
menghapus mimpi-mimpi besarmu itu
kau menangis, aku tahu
aku juga
tapi kau tak mau tangisku bukan?
panas itu,
itu dari dirimu bukan?
bukan dari matahari, karena kaulah matahari
ah kulihat genggaman tangan kecilmu
juga kakimu yang menjejak-jejak
merah-merah memecah
pertempuran menggaris tubuh
darahmu mengalir mengular mendenguskan nafasmu menajamkan matamu mengencangkan teriakanmu melajukan kakimu menggemeretukkan gigi-gigimu
kutahu, engkau menang!
riyadh, 26 mei 2009
