Hari-hari terakhir ini tiba-tiba aku begitu ingin dekat dengannya. Mojok berdua. Bersandar pada lemaknya yang hangat. Meneliti kerut demi kerut wajah 45 tahunnya. Sungguh, hari-hari ini, aku begitu mencintainya.

Aku memutuskan untuk menghadirkan wanita lain di sisiku, setelahnya. Aku tahu, ia bakal begitu cemburu. Aku yakin, ia akan menangis. Ya… aku percaya itu.

Tapi ia begitu baik. Ia lebih memilih ridha atas kecewa yang sempat terlontar. Ia memilih senyum atas luka yang mungkin kan ternganga.

Ia siapkan semuanya… perhiasan terindah… tabungannya yang tlah berberbulan… bekal-bekal yang terbaik…

Sungguh atas semuanya, aku bakal merindukannya…
Menangisi saat-saatku hanya bersamanya…
Kemarahannya…
Tangisnya…

Saat demi saat, ketika merindui kalimatnya yang khas itu : “ooo dasar cah bodo maning sih…”

Kata-kata dari seorang wanita dengan pendidikan apa adanya…
Pada seorang anaknya yang sarjana… yang sedang belajar hidup darinya…
Kata-kata dari …
Ibuku!

Detakku mulai malam ini seolah makin mampu terhitung.
Terasa denyut demi denyut. Pada detik demi detik.
Tiga hari lagi aku akan menikah.
Ia menyebutnya “menjemput bidadari”, dengan sebuah asa besar “membereskan negeri”.
Aku menyebutnya “bersama menggelar sajadah cinta”, dengan sebuah cita
gagah “membangun masjid untuk Indonesia”.

Kata-kata yang membuatku tertunduk merenung – diam.
Iyakah?
Sementara untuk membereskan diri kami, kami masih harus tergagap…
Sementara untuk menegakkan mesjid di hati kami, kami masih harus tertatih…

Ah mungkin, ini cara Allah membuat kami menjadi wajar. Manusiawi. Manusia apa adanya.
Makanya Ia menjejakkan fithrah insaniyyah bernama gharizah jinsiyyah menjadi ibadah.
Menegakkan akal dan ruh kembali dalam diri manusia.
Melepaskan dari jerat penjara kebinatangan, yang setan munculkan dalam diri kami.

Jika benar itu ya Rabbii… bimbinglah kami…
lindungilah anak keturunan kami…
ruakkanlah rasa ketenangan (sakinah) itu dalam hati kami…
luapkanlah cinta (mawaddah) itu dalam jiwa kami…
letupkanlah kasih sayang (rahmah) dalam kebersamaan kami yang indah…

Puisi-puisi cinta penyair telah habis di tangan Sapardi
Telah klise kata rayuan para penggombal
Maka kupinjam mantra sakti Widji
Hanya satu kata: Cinta!

[untuk istri tersayang]

Hari yang berat. Pagi-pagi ke Fakultas dan Rektorat, urus exit permit/re-entry visa-ku. Awal Februari rencana pulang ke Indo jemput istri dan anak tersayang. Setelah dokumen exit permit/re-entry beres, masuk ke bagian lain di Rektorat nanya prosedur klaim vacation ticket (alias jatah tiket liburan tahunan). Bos bagian itu bilang sebelum liburan Ied, kalo ndak masalah vacation ticket diklaim pada bulan Februari, asal nanti di liburan musim panas ndak klaim lagi. Ya, memang itu rencananya, toh nanti liburan musim panas memang tidak rencana pulang ke Indo.

Masalah muncul, ketika kepala seksi menjelaskan prosedurnya. Katanya, tiket ndak bisa diklaim sekarang, baru bisa diklaim kalo kontrak satu tahunnya sudah dijalankan dulu. Mungkin takut kalo ada yang melarikan diri dari kontrak. Terus dia cerita lainnya, bla.. bla.. bla.. Tapi kaki sudah lemes, telinga sudah gak bisa lagi mendengarkan.

(lagi…)

Kemarin tanggal dua-puluh-sembilan. Sekarang tanggal tiga-puluh. Besok tanggal tiga-puluh-satu.

Istri-ku sudah tiga-puluh.. orang, eh… tiga-puluh tahun usianya. Hmmm.. sudah makin berumur rupanya. Dalam tiga-puluh tahun hidupnya, tiga tahun di antaranya ia hidup bersamaku. Untuk sebuah harapan kebersamaan yang lebih panjang, hingga tiga ratus tahun lagi.. Amiin

Sekarang kami hidup ber-tiga, dengan Izza kami yang lucu itu. Tapi sebentar lagi, hidup istri-ku bakal lebih rame, dengan tiga makhluq yang ada saja ngribetinnya, karena insya Allah Juni ini, adiknya Izza lahir.

Ah jadi inget hadits Nabi -shalallahu ‘alayhi wassalam- ini,

Dari Abu Hurairah -radiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wassalam- bersabda :
(إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له)
Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara : shadaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kepadanya” [HR. Muslim]

Yup, semoga bunda -gitu panggilan sayang kami berdua buatnya-, mulai dari tiga puluh tahun, kemaren, tiga puluh tahun berikutnya, dan tiga puluh tahun berikutnya, hidupnya penuh dengan tiga perkara yang kan menempatkannya di surga.

Dalam tiga-tahunnya kami bersama, istri-ku telah memberi begitu banyak. Istri-ku adalah sparring partner-ku yang paling seru. Seru kalo kami diskusi, seru kalo kami marahan. Rame deh, kalau kami sedang bersilat lidah dan beradu kata. Tidak ada yang mau kalah. Istri-ku yang cerdas itu, yang seringkali bikin daku bego setengah mati. Ia pada saatnya adalah perempuan yang begitu tegar dan mandiri. Kokoh bak karang. Pada saat lainnya, ia begitu rapuh, sensitif, dan melankolis. Ia siap berjumpalitan mengejar ambisi-ambisinya, saat pada waktunya ia tiba-tiba meneteskan air matanya.

Ia yang terbaik untukku dan untuk Izza. Insya Allah.

Untuk semua yang telah istri-ku berikan, suami bodohmu ini cuma bisa bilang, “Thanks, I love you..

Entah mengapa, kami seringkali harus sering terpisah. Seminggu setelah kami menikah, kami harus hidup terpisah [duh!]. Istri mesti sekolah, saya mesti bekerja. Dan itu berjalan selama hampir dua tahun. Lalu satu tahun lebih sedikit kami berkumpul penuh, untuk kemudian sekarang terpisah lagi selama setengah tahun.Sampai sekitar dua tahun lagi, saya harus sekolah di Riyadh, Arab Saudi. Sekolah di Arab Saudi ini memenuhi pelengkapan kebutuhan saya dalam ilmu pengetahuan, agama, dan memenuhi kewajiban dari institusi.

Problem muncul ketika rencana kami untuk berkumpul berhadapan dengan banyak tantangan. Rencana pertama, istri sekolah juga di Arab Saudi. Karena istri PNS, izin untuk sekolah lagi relatif lebih mudah. Tapi rencana ini gagal karena bidang studi istri di Arab Saudi tidak menerima program pascasarjana untuk siswa perempuan. Rencana kedua, istri pindah tugas dengan menjalankan tugas perbantuan di Sekolah Indonesia Riyadh milik KBRI. KBRI oke, tapi tidak mau memberi gaji. Nah problem di instansi istri. Instansi istri punya kecenderungan untuk tidak mengizinkan. Wong mereka butuh kok…

(lagi…)

Kami hidup terpisah lagi. Empat bulan terakhir ini, saya harus hidup sendiri di Riyadh, Saudi Arabia. Menjadi Tenaga Kerja sekaligus menjadi Mahasiswa Pascasarjana di King Saud University. Beberapa bulan sebelumnya kami juga hidup terpisah selama 3 bulan. Saya harus mengerjakan riset dan kuliah prapascasarjana di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, yang kemudian saya tinggalkan.

Salah satu hal yang paling mengiris hati pada saat kami hidup terpisah seperti ini adalah kala saya menyadari bahwa pada saat-saat ini pulalah, putri saya satu-satunya sebenarnya sedang belajar memaknai ayahnya.  Ia baru satu tahun ketika ayahnya mulai di Yogya. Ia sedang memaksimalkan betul lisannya untuk memanggil ‘ayah’ dan ‘bunda’, ketika justru ayahnya jarang nampak dalam kesehariannya.

Terbayang, saat ia kaki-kaki kecilnya kencang menemui ayahnya di ruang komputer setelah puas bermain di luaran. Teriaknya menggema, “Ayah!” Teringat saat ia enggan melepaskan diri dari ayahnya untuk ikut pergi shalat ke masjid. Jawabnya selalu riang saat ia membalas pertanyaan ayahnya, “Mau ke mas..?” “jid!” “Mau sha..” “lat!” “Izza di masjid jangan nangis ya..” “Iyaaa…” Atau saat ia ngeyel ikut naik motor saat ayahnya pulang kantor, untuk kemudian jalan-jalan keliling hingga ia tertidur..

Masa gila-gilanya teknologi informasi saat ini sekalipun tak memberi peluang berarti bagi saya untuk memenuhi dahaga ini. Kadang-kadang saya telepon dan bicara padanya. Kadang ia menyambutnya dan bicara apa saja yang ia mau, kadang ia cuek. Saya kirimkan video dan foto ayahnya di Riyadh, tapi entah apa responnya. Fotonya terpajang jadi background monitor. Toh juga tak membantu apapun pada saya untuk memenuhi gumpalan rasa rindu dan tanggung jawab ini.

Istriku memberi kabar, “Izza lagi marah sama paman-nya (adik istri) karena pakai baju dan sarung ayahnya.” “Ini punya ayah!”, katanya. Air mataku menetes..

Abu Hurayrah -radiyallahu ‘anhu-, bercerita :

“Bahwa ada seorang datang kepada Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wassalam- dan berkata : “Wahai Rasulullah, aku telah binasa!” 

Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wassalam- bersabda: “Wahai, celaka engkau!”

Orang itu berkata: “Aku telah menggauli istriku di bulan Ramadhan!”

Rasulullah -shalallahu ‘alayhi wassalam- bersabda: “Merdekakanlah seorang budak!”

Ia menjawab: “Aku tidak punya!”

Beliau -shalallahu ‘alayhi wassalam- bersabda: “Puasalah 2 bulan berturut-turut!”

Ia menjawab: “Aku tidak mampu!”

Beliau -shalallahu ‘alayhi wassalam- bersabda: “Berilah makan 60 orang miskin!”

Ia menjawab: “Aku tidak punya!”

Kemudian beliau -shalallahu ‘alayhi wassalam- diberi sekeranjang kurma dan bersabda: “Ambil ini dan bersedekahlah dengannya!”

Ia bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah kepada selain keluargaku? Demi Allah yang jiwaku ada di Tangan-Nya, tidak ada di antara kedua sisi Madinah yang lebih memerlukan daripada aku!”

Maka Nabi -shalallahu ‘alayhi wassalam- tersenyum hingga terlihat gigi taringnya, Beliau -shalallahu ‘alayhi wassalam- bersabda: “Ambillah, dan berilah makan keluargamu!”

(HR Bukhari: 6021, 6333)

[sumber dari Tabloid Nova, edisi ?]

Mulut Anda adalah harimau Anda. Pernah dengar, kan, peribahasa itu? Memang, kata-kata yang kita ucapkan memiliki kekuatan besar Terutama bila kita betul-betul mengerti apa yang terkandung di dalam kata-kata tersebut. Ada beberapa hal yang dapat membantu kita untuk berkomunikasi lebih baik, yaitu dengan cara yang penuh kasih, enak didengar, serta efektif.

Yang jelas, saat membaca saran-saran berikut, secara spontan, jauh di lubuk hati, Anda akan berkata, “Oh, ya, suamiku memang begitu, si Y memang begini,” dan seterusnya. Bahkan, mungkin Anda yang pertama yang menyebarkan tulisan ini pada orang-orang yang menurut Anda perlu diberitahukan. JANGAN LAKUKAN! Nah, sebelum membagi artikel ini dengan teman, pastikan Anda telah mempraktekkannya terlebih dahulu

(lagi…)

Engkau tampak begitu menikmati tantangan dunia-mu. Yang menguras kelelakianmu. Saat tiba-tiba di rumah, tempat ‘kedamaian atas keriuhan’-bagimu, tiba-tiba bergejolak.

Istrimu, kekasihmu, menyambutmu dengan ungkapan-ungkapan yang tidak engkau suka. Sebenarnya ia sedang menceritakan perasaannya. Tapi engkau merasa ia mengganggu kebutuhanmu untuk damai. Lalu bahasa tubuhmu menolaknya.

(lagi…)

Halaman Berikutnya »